Panggung Kesenian Indonesia Terinspirasi Budaya Tiongkok

Posted by

Percaya maupun tidak sebenarnya beberapa pagelaran panggung kesenian di tanah air Indonesia ini sangat erat hubungannya dengan budaya dari Tiongkok.

wisata alam indonesia

Pertengahan abad ke-7 di negeri Tiongkok. Raja muda Sie Jin Kwie memerintah satu wilayah dengan adil dan bijaksana. Namun, orang baik tidak pernah sendiri, selalu dibayangi penjahat rakus. Bie Jin memfitnah Sie Jin Kwie telah berlaku tidak senonoh sehingga kaisar ingin menghukum mati.
Kisah pahlawan berbaju putih ini dipentaskan Teater Koma dengan judul Sie Jin Kwie Kena Fitnah, Maret 2011. Sebuah drama pembauran di antara opera Tiongkok, boneka potehi, golek menak, wayang wong, dan wayang tavip.

Baca Informasi :  Gong Xi  Fa Cai 2015

Kelompok teater pimpinan Nano Riantiarno ini akan mementaskan lagi naskah saduran Opera Ular Putih, yang pernah dipentaskan 1994, pada April 2015.

Inti kisah tetap tentang siluman ular putih yang menyamar menjadi perempuan cantik dan membaur dengan kehidupan manusia. Namun, ada pesan lain dari Nano.

”Saat ini, siapa monster dan siapa manusia di negeri ini. Manusia bisa menjadi monster. Presiden harus bertanggung jawab untuk membedakan mana monster dan mana manusia,” katanya terkekeh.
Pembauran budaya Tiongkok dan Indonesia dalam teater juga muncul dalam desain busana.
”Opera Ular Putih tahun 1994 kami pakai batik. Ada adaptasi atau pembauran mengacu yang kita punya, merujuk batik di Indonesia, yang gila-gilaan ornamen Tiongkoknya,” kata Nano.
Tidak banyak kisah dari Tiongkok dipentaskan Teater Koma, tetapi pengaruhnya besar. Naskah Opera Ular Putih kerap dipentaskan di perguruan tinggi seni dengan tafsir beragam. Cerita paling fenomenal, Sampek Engtay, dipentaskan lebih dari 100 kali dengan naskah saduran Teater Koma.
”Saya lihat kisah Sampek Engtay jadi campur aduk menjadi lakon yang bisa diterima siapa saja. Kisah cinta yang berakhir tidak bahagia,” ujar Nano.
Pengaruh budaya Tiongkok pada seni pertunjukan modern di Indonesia, khususnya teater, berkaitan dengan cerita dan naskah. Nano memilih untuk mengambil kisah asli dari Tiongkok lantas disadur, sedangkan Remy Sylado memilih menukil kisah dalam sejarah pembauran Tiongkok dan Indonesia. Remy pada Januari 2009, misalnya, mementaskan drama musikal tentang dua pahlawan Tiongkok dari Lasem, Tan Pan Ciang dan Oei Ing Kiat, di Mal Ciputra, Jakarta. Dalam Babad Tanah Jawi disebutkan, Tan Pan Ciang sebetulnya Raden Panji Margono yang menyamar.

Merujuk catatan Jakob Sumardjo (Perkembangan Teater Modern dan Sastra Drama Indonesia, Citra Aditya Bakti, 1992), pengaruh Tiongkok muncul pada masa Teater Opera pada 1908 ketika masyarakat keturunan Tiongkok membentuk sandiwara Opera Derma atau Tjoe Tee Hie. Lakon biasanya saduran dari naskah Tiongkok. Masa kebangkitan teater modern 1925-1941 ditandai dengan berdirinya Miss Riboet Orion yang dipimpin Tio Tik Djien. Kelompok ini terkenal melakukan perubahan dalam struktur pementasan.


Demo Blog NJW V2 Updated at: 9:30 PM

0 comments:

Post a Comment